MEMBANGUN KONSEP DIRI YANG POSITIF BAGI REMAJA DALAM
MENGATASI KEHAMPAAN HIDUP
Indah Tri Lestari
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan prodi
Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya
ABSTRAK
Usia
remaja kerap kali dijadikan bahan perbincangan. Bagi orang tua maupun dewasa.
Karena pada saat usia ini anak cenderung ingin bermain-main dan tidak mau
mengkuti aturan yang berlaku. Beberapa orang tua menyebut remaja adalah anak
yang susah diatur dan sering melanggar tata tertib. Sebagian orang juga
memandang anak remaja adalah awal dari proses menuju dewasa, karena itu remaja
membutuhkan bimbingan dari orang yang dirasa mampu untuk mengarahkan pola pikir
dan perilaku anak remaja.
Anak
remaja rentan sekali terhadap hal-hal yang negatif dan perilaku yang menyimpang
dikarenakan pemikiran dan konsep diri yang kurang dikuasainya. Pemikiran yang negatif
tentang sesuatu akan mempengaruhi konsep diri yang dibentuk. Beberapa remaja
mengalami konsep diri yang negatif yang mengarah pada perilaku yang menarik
diri, dan menghindar dari sosialisasi. Hal ini akan menimbulkan kehampaan dalam
hidupnya.
Kehampaan
dalam hidup adalah ketika tidak ada Tuhan dalam diri kita. Pemikiran seperti
ini sering dilakukan oleh remaja. Sebenarnya kita lah yang kurang beribadah
kepada-Nya. Mendekatkan diri kepada sang pencipta adalah salah satu upaya untuk
mengatasi kehampaan yang terjadi dalam hidup.
ISI
Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang
dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang
perilaku, pikiran dan perasaannya serta bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh
pada orang lain. Konsep diri terbentuk melalui proses belajar dari kecil hingga
dewasa, lingkungan, pola asuh dan pengalaman memberi pengaruh terhadap konsep
diri seseorang. Konsep diri juga terbentuk seiring bertambahnya usia, dimana
perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan.
Pada masa kanak-kanak, konsep diri seseorang
menyangkut hal-hal disekitar. Pada masa remaja, konsep diri sangat dipengaruhi
oleh teman sebaya dan orang yang dipujanya. Sedangkan remaja yang kematangannya
terambat, yang diperlkukan seperti anak-anak, merasa tidak dipahami sehingga
berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri. Sedangkan masa dewasa konsep
dirinya sangat dipengaruhi oleh status sosial dan pekerjaan. Pada usia tua,
konsep dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan fisik, perubahan mental
maupun sosial.
Pada usia remaja anak cenderung mengalami kesulitan
dalam mengontrol emosi serta perilakunya. Sebagian besar anak remaja sering
terhambat dalam menyelesaikan permasalahannya karena pemikiran dan emosinya
kurang stabil. Terkadang banyak juga remaja yang mengalami kehampaan dalam
hidupnya. Kondisi ini dimana anak sudah tidak bisa berpikir secara rasional,
seakan-akan ia orang yang paling tidak berharga dimuka bumi. Kasus semacam ini
terjadi ketika anak tidak bisa menerima keadaan diri sepenuhnya. Remaja ini
belum memahami konsep diri sepenuhnya.
Konsep diri yang negatif ditentukan dari pemikiran negatif
seseorang tentang sesuatu. Menurut Elfiky (2010) banyak yang mendorong
terjadinya konsep diri negatif antara lain : 1). Berpikir positif untuk
menguatkan cara pandang, 2). Berpikir positif karena pengaruh orang lain, 3). Berpikir
positif karena moment tertentu, 4). Berpikir positif saat menghadapi kesulitan,
5). Selalu berpikir positif
Berdasarkan uraian diatas, kegagalan remaja dalam
mengembangakan konsep diri secara positif sangat berdampak buruk bagi proses
interaksinya dengan orang lain. Adapun dampak-dampak yang ditimbulkan seperti
pemalu, menarik diri, pesimis, susah bersosialisasi, takut menghadapi orang
baru, merasa rendah diri, merasa dikucilkan dan juga dapat berdampak parah
seperti skizofernia. Skizofernia menurut Sarwono (2012) adalah cara berpikir
yang tidak mampu, tidak logis, tidak mampu melihat kenyataan dengan benar dan
timbulah waham atau halusinasi.
Menurut Rumini dan Sundari (2004) penyesuaian diri
yang salah terdiri atas tiga bentuk, yaitu reaksi bertahan diri, reaksi
menyerang, reaksi melarikan diri. Reaksi bertahan diri, adalah suatu usaha
bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan meskipun sebenarnya mengalami kegagalan
atau kekecewaan. Reaksi menyerang, adalah suatu usaha untuk menutupi kegagalan
atau tidak mau menyadari kegagalan dengan tingkah laku yang bersifat menyerang.
Reaksi melarikan diri, adalah usaha melarikan diri dari situasi yang
menimbulkan kegagalan, reaksi itu menampak dalam bentuk mereaksikan keinginan
yang tidak dicapai.
Untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa jalan
alternatif agar para remaja tidak menjadi orang yang gagal dalam membangun
konsep dirinya, antara lain :
1. Beriman,memohon bantuan, tawakal pada Allah
Pada dasarnya manusia menciptakan makhluk dan
seisinya semata-mata hanya untuk menyembah kepada-Nya. Segala amarah, kecewa,
sedih dan rasa dengki yang menyelimuti hati akan sirna jika kita kembali
kepada-Nya. Percaya bahwa Dia lah Tuhan yang patut untuk disembah dan dimintai
pertolongan. Oleh karena itu remaja yang mempunyai emosi naik turun sebaiknya
menyerahkan segala sesuatu hanya pada Allah dan berusaha mengikhaskannya.
2. Menjaga nilai-nilai luhur
Senantiasa menjaga budaya dan adat istiadat yang ada
di lingkungan sekitar akan membangun konsep diri yang positif dalam jiwa. Tidak
membiarkan budaya tradisional luntur oleh zaman juga memberi dampak positif
khususnya bagi remaja. Menjaga budaya sama dengan menjaga tali silaturahmi
antar manusia, hal ini akan menambah kepercayaan diri para remaja untuk lebih
mdah bersosialisasi dengan orang lain.
3. Cara pandang kedepan jelas
Rencana jangka panjang dan jangka pendek yang jelas
merupakan pondasi untuk terbentuknya konsep diri yang positif dan juga matang.
Pola pikir seperti ini sangat penting bagi remaja awal yang bingung dengan
tujuan hidupnya. Agar remaja juga tidak terpuruk pada hal itu-itu saja.
4. Mencari jalan keluar dari berbagai masalah
Semua persoalan mempunyai jalan keluar. Tuhan
memberi satu masalah dan memberi dua jalan keluar. Remaja memang sulit mencari
jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Namun jika remaja yang mempunyai
konsep diri positif yang ingin memecahkan masalahnya tentu ia akan meminta
bantuan orang lain. Akan tetapi berbeda dengan remaja yang kurang menguasai
konsep diri positif ia cenderung akan murung dan mengurung diri ditempat yang
menurutnya nyaman. Ini akan menghambat interaksinya dengan orang lain.
5. Belajar dari kesulitan
Kegagalan yang pernah dialami dapat memberi kesan
yang baik jika remaja dapat membuat kegagalan menjadi pelajaran yang berharga. Tidak
menyalahkan keadaan, akan tetapi mengambil makna dari permasalahan tersebut.
6. Bergaul dan suka membantu orang lain
Beinteraksi dengan orang banyak membantu permasalahan
dalam hidup dan menambah pengalaman bagi setiap manusia.
Remaja dengan kehampaan hidup hingga
berlarut-larut sekian lamanya, akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang
disekitarnya. Disamping ia tidak dapat lagi bersosialisasi ia akan menjadi pribadi
yang introvert yang dihindari oleh banya orang. Dari permasalahan yang dialami
ia hanya membutuhkan ketenangan jiwa untuk penyelesaian dari segala masalahnya.
Berikut
adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meraih ketenangan jiwa menurut
Rizal (2010) dalam blognya:
1. Membaca dan mendengarkan al-Quran
Suatu
ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama
Rasulullah. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah obat
bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram,
jiwaku gelisah, dan pikiranku kusut. Makan tak enak, tidur pun tak
nyenyak," kata orang tersebut.
2. Menyayangi orang miskin
Rasulullah
memerintahkan kepada muslim yang punya kelebihan harta untuk memberikan perhatian
kepada orang miskin. Ternyata, sikap dermawan itu bisa mendatangkan ketenangan
jiwa. Mengapa? Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa para malaikat selalu
mendoakan orang-orang dermawan:
“Setiap pagi hari dua malaikat senantiasa mendampingi setiap orang. Salah
satunya mengucapkan doa: Ya Allah! Berikanlah balasan kepada orang yang
berinfak. Dan malaikat yang kedua pun berdoa: Ya Allah! Berikanlah kepada orang
yang kikir itu kebinasaan."
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang dermawan itu memperoleh
dua balasan. Pertama, ia mendapatkan ganjaran atas apa yang diberikannya kepada
orang lain. Kedua, mendapatkan limpahan ketenangan jiwa dan belas kasihan dari
Allah.
3. Melihat orang yang di bawah, jangan
lihat ke atas
Ketenangan
jiwa akan diperoleh jika kita senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah,
meskipun tampak sedikit. Rasa syukur itu akan muncul bila kita senantiasa
melihat orang-orang yang kondisinya lebih rendah dari kita, baik dalam hal
materi, kesehatan, rupa, pekerjaan dan pemikiran. Betapa banyak di dunia ini
orang yang kurang beruntung. Rasa syukur itu selain mendatangkan ketenangan
jiwa, juga ganjaran dari Allah.
4. Menjaga silaturahmi
Manusia
adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan jalinan hubungan
yang baik dengan manusia lain. Berbagai kebutuhan hidup takkan mungin bisa
diraih tanpa adanya bantuan dari orang lain. Karenannya, di dalam hadits
Rasulullah diperintahkan untuk tetap menjalin silaturahmi, sekalipun terhadap
orang yang melakukan permusuhan, Rasulullah juga pernah bersabda bahwa
silaturahmi dapat memanjangkan umur dan mendatangkan rejeki. Hubungan yang baik
di dalam keluarga, maupun dengan tetangga akan menciptakan ketenangan,
kedamaian dan kemesraan. Hubungan yang baik itu juga akan sangat efektif untuk
menanggulangi berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
5. Banyak mengucapkan la hawla wa la
quwwata illa billah.
Sumber
ketenangan jiwa yang hakiki bersumber dari Allah SWT. Karena itu hendaklah kita
selalu menghadirkan Allah SWT dalam segala situasi, baik dalam keadaan senang
maupun susah. Keterikatan yang kuat dengan Allah SWT akan membuat jiwa
seseorang menjadi kuat, tak mudah goncang dan diombang-ambingkan sesuatu.
Sebab, bila kita lalai untuk mengingat Allah, maka membuka peluang bagi setan
untuk mempengaruhi pikiran kita.
6. Mengatakan yang haq (benar)
sekalipun pahit
Hidup
ini harus dijaga agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran. Kebenaran
harus diperjuangan. Pelanggaran terhadap kebenaran akan mendatangkan kegelisahan.
Ketenangan jiwa akan tergapai bila kita tidak melanggar nilai-nilai kebenaran.
Sebaliknya, pelanggaran terhadap kebenaran akan berpengaruh terhadap ketenangan
jiwa. Lihat saja orang-orang kerap berbuat maksiat, kehidupannya diliputi
kegelisahan.
7. Tidak ambil peduli terhadap celaan
orang lain asalkan yang kita lakukan benar-benar karena Allah
Salah
satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah karena selalu
mengikuti penilaian orang terhadap dirinya. Terombang ambing oleh sikap dan gaya
hidup orang kebanyakan. Sedangkan seseorang akan memiliki pendirian yang kuat
jika berpegang kepada prinsip-prinsip yang datang dari Allah (al-Islam). Betapa
melelahkannya hidup ini bila segala hal yang ada di dunia ini kita ikuti.
8. Tidak mengemis kepada orang lain
"Tangan
di atas (memberi) lebih mulia dari tangan di bawah" adalah hadits
rasulullah yang memotivasi setiap mukmin untuk hidup mandiri. Tidak tergantung
dan meminta-minta kepacla orang lain. Sebab, orang, yang mandiri, jiwanya akan
kuat dan sikapnya lebih berani dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, orang
yang selalu meminta-minta menggambarkan jiwa yang lemah. Hal ini tentu membuat
batin tak nyaman.
9. Menjauhi Utang
Dalam
sebuah hadits Rasulullah dengan tegas mengatakan: “Janganlah engkau jadikan
dirimu ketakutan setelah merasakan keamanan!” (Para sahabat) bertanya:
Bagaimana bisa terjadi seperti itu! Sabdanya: Karena utang.”
Begitulah
kenyataanya. Orang yang berutang akan senantiasa dihantui ketakutan, karena ia
dikejar-kejar untuk segera melunasinya. Inilah salah satu faktor yang membuat
banyak orang mengalami tekanan jiwa. Rasulullah juga mengatakan: “Hendaklah
kamu jauhi utang, karena utang itu menjadi beban pikiran di malam hari dan rasa
rendah diri di siang hari."
10. Selalu berpikir positf
Mengapa
seseorang mudah stress? Salah satu faktornya karena ia selalu diliputi
pikiran-pikiran negatif. Selalu mencela dan menyesali kekurangan diri. Padahal,
setiap kita diberikan oleh Allah berbagai kelebihan. Ubahlah pikiran negatif
itu menjadi positif. Ubahlah ungkapan keluh kesah yang membuat muka cemberut,
badan lemas dan frustasi dengan ungkapan senang. Ungkapan senang akan membuat
ekspresi senyum dan jiwa menjadi semangat kembali. Bukankah di balik kesulitan
dan kegagalan ada hikmah yang bisa jadi pelajaran? Dan bukankah dibalik
kesulitan ada kemudahan?
KESIMPULAN
Konsep
diri merupakan pandangan tentang dirinya sendiri yang menyangkut baik atau
buruknya perilaku. Konsep diri dipengaruhi dan terbentuk oleh pola asuh,
lingkungan, pengalaman masa kanak-kanak. Pada usia remaja cara pandang dan pola
pikir anak sering kali berubah-ubah. Beberapa orang menyebut remaja adalah awal
dari proses menuju dewasa. Pada tahap remaja ini konsep diri banyak dipengaruhi
oleh teman sebaya dan orang yang dipujanya.
Konsep
diri dibagi menjadi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.
Seseorang yang mempunyai konsep diri negatif perlu dikhawatirkan karena mereka
mempunyai cara pandang yang tidak biasa dalam menyikapi sesuatu. Adapun
dampak-dampak dari pemikiran negatif kepada perilakunya seperti pemalu, menarik
diri, pesimis, susah bersosialisasi, takut menghadapi orang baru, merasa rendah
diri, merasa dikucilkan dan juga dapat berdampak parah seperti skizofernia.
Kehampaan
hidup pernah dialami sebagian orang, tak khayal jika para remaja juga mempunyai
pola pikir seperti itu. Merasa hampa dan kosong dalam jiwa dan hati manusia
sebenarnya adalah tanda akan kurangnya ibadah kita dengan sang pencipta. Untuk
meraih ketenangan jiwa ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti membaca dan mendengarkan al-Quran, menyayangi
orang miskin, melihat orang yang di bawah, jangan lihat ke atas, menjaga
silaturahmi, banyak mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah, mengatakan
yang haq (benar) sekalipun pahit, tidak ambil peduli terhadap celaan orang lain
asalkan yang kita lakukan benar-benar karena Allah, tidak mengemis kepada orang
lain, menjauhi hutang, dan selalu berpikir positf
Daftar Pustaka
Elfiky, Ibrahim. 2010. Terapi Berpikir positif.Bandung:Gita Print
Rumini Sri dan Sundari Siti. 2004. Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta :
Rineka Cipta
Sarwono, Sarlito wirawan . 2012. Psikologi Remaja. Jakarta : RajaGrafindo
Persada
Rizal . 2010. Meraih
Ketenangan Jiwa, Menghilangkan Kehampaan. [http://rizalaby.blogspot.co.id/2010/07/meraih-ketenangan-jiwa-menghilangkan.html?m=1
(diakses: Senin, 23 Mei 2016)]